GARDATIMURNEWS.COM ][ TAKALAR- Dapur penyedia program Makan Bergizi Gratis (MBG) SPPG Sombala Bella 1 di Kelurahan Sombala Bella, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Takalar, kembali menjadi sorotan.
Dapur yang dikelola Yayasan Sinar Jaya Reski itu kini kembali menjalani investigasi setelah muncul laporan sejumlah siswa dan guru SMP Negeri 2 Takalar mengalami keluhan kesehatan usai mengonsumsi makanan MBG, Senin, 31 Agustus 2026.
Informasi sementara menyebut sekitar 30 siswa mengalami sakit perut hingga diare. Sejumlah guru juga dilaporkan mengalami keluhan serupa.
Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Takalar, Nur Maulana, membenarkan adanya laporan tersebut. Menurut dia, Kepala SPPG Sombala Bella 1 telah menyampaikan informasi mengenai kejadian itu.
“Betul kak, tadi Ka SPPG-nya sempat hubungi saya. Dia menyampaikan ada kejadian keracunan siswa di SMP 2 Takalar,” ujar Nur Maulana saat dikonfirmasi, Selasa, 1 September 2026.
Namun, Maulana belum memastikan bahwa keluhan kesehatan tersebut disebabkan oleh makanan MBG. Dia mengatakan tim akan melakukan investigasi langsung untuk mencari tahu penyebabnya.
“Sementara menuju dapur ini, kami akan investigasi apa yang menjadi penyebab utama keracunan ini,” katanya.
Investigasi tersebut, kata Maulana, akan menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya. Jika ditemukan adanya kelalaian dalam pengelolaan dapur, evaluasi akan dilakukan.
“Jika kejadian keracunan ini betul disebabkan oleh kelalaian penanggung jawab Dapur SPPG, maka sangat disayangkan, apalagi dapur tersebut baru beroperasi kurang lebih satu minggu setelah disuspensi oleh BGN,” ujar dia.
Baru Beroperasi Setelah Suspensi
Sorotan terhadap SPPG Sombala Bella 1 semakin kuat karena dapur tersebut disebut baru kembali beroperasi setelah sebelumnya mendapatkan suspensi dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Kondisi itu membuat pemeriksaan terhadap seluruh rantai penyediaan makanan menjadi penting. Investigasi diharapkan tidak hanya melihat makanan yang telah dikonsumsi siswa, tetapi juga proses pengadaan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, pengemasan hingga distribusi makanan ke sekolah.
Pihak sekolah sendiri belum memastikan hubungan langsung antara makanan MBG dan keluhan kesehatan yang dialami siswa maupun guru.
Kepastian mengenai penyebabnya masih menunggu hasil pemeriksaan serta investigasi pihak terkait.
Hasil pemeriksaan nantinya diharapkan dapat menjawab apakah keluhan kesehatan tersebut berkaitan dengan makanan MBG atau disebabkan faktor lain.
Temuan itu juga akan menjadi bahan evaluasi terhadap pengelolaan SPPG Sombala Bella 1, terutama karena dapur tersebut baru kembali beroperasi setelah menjalani suspensi.
Jika terdapat pelanggaran atau kelalaian, langkah evaluasi dan perbaikan diperlukan agar keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG tetap terjamin dan kejadian serupa tidak kembali terjadi.













