GARDATIMURNEWS.COM ][ Makassar- Kontestasi menuju kursi Ketua PWI Sulawesi Selatan mulai memanas. Salah satu figur yang resmi masuk gelanggang adalah Ir. H. Suwardi Tahir, M.Si., yang menyerahkan formulir pendaftaran bakal calon Ketua PWI Sulsel, Rabu (13/5/2026).

Kehadiran Suwardi Tahir atau yang akrab disapa ST menandai dimulainya pertarungan gagasan dalam tubuh organisasi wartawan tertua tersebut.
Tidak sekadar datang mendaftar, ST membawa narasi “Gerakan Perubahan” sebagai tawaran arah baru bagi PWI Sulsel periode 2026–2031.
Di tengah dinamika internal organisasi pers, isu integritas, soliditas, hingga masa depan profesi wartawan menjadi perhatian dalam momentum Konferprov kali ini.

Proses pengembalian formulir diterima panitia steering committee (SC) Konferprov PWI Sulsel. Sejumlah nama pengurus dan panitia tampak hadir dalam proses tersebut, termasuk Ketua SC Faisal Syam dan tim verifikasi konferensi.
Di balik proses administratif itu, sorotan justru mengarah pada pesan moral yang mengemuka menjelang kontestasi. Mantan Sekretaris PWI Sulsel periode 2015–2020, Anwar Sanusi, mengingatkan agar seluruh tahapan konferensi tidak sekadar menjadi perebutan jabatan, tetapi momentum menjaga marwah organisasi wartawan.
Menurutnya, PWI membutuhkan pemimpin yang tidak hanya populer, tetapi memiliki integritas, amanah, dan keberpihakan terhadap kepentingan anggota.
“Pemimpin bukan hanya pandai berbicara, tetapi memahami persoalan dan mampu menghadirkan solusi,” tegas Anwar Sanusi.
Ketua SMSI Sulsel itu juga mengingatkan pentingnya menjaga sportivitas dan persaudaraan di tengah kompetisi yang mulai menghangat.
Ia menilai demokrasi organisasi harus tetap dijaga agar Konferprov PWI Sulsel tidak kehilangan substansi sebagai ruang memperkuat solidaritas insan pers.
Anwar bahkan mengutip Surah Al-Maidah ayat 8 tentang pentingnya berlaku adil, sebagai pengingat moral bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses pemilihan.
Kontestasi Ketua PWI Sulsel sendiri diperkirakan akan menjadi arena pertarungan gagasan terkait masa depan organisasi, terutama di tengah tantangan dunia jurnalistik yang terus berubah, mulai dari tekanan ekonomi media, disrupsi digital, hingga menjaga independensi pers di daerah. (*)













